Thursday, 24 September 2015

Gantungkan Cita-citamu Setinggi PNS

Saya sangat berhati-hati menulis ini, takut banyak orang yang tersinggung. Tulisan ini tidak bermaksud menyudutkan atau sinis pada pilihan hidup seseorang untuk jadi PNS. Sama sekali bukan itu. Kerja apa pun nggak masalah, asalkan halal, bisa menghidupi anak istri plus ada dana sisa buat keliling dunia...maya.

Tulisan ini sekedar refleksi pada keheranan saya pada orang yang begitu mengagungkan PNS. Dan praktek kecurangan saat penerimaan PNS. Seolah-seolah PNS adalah sebuah kasta tertinggi.  PNS bisa mendongkrak status sosial sampai ke posisi puncak di masyarakat. Serta seakan-akan PNS menjamin hidup pasti bahagia. Dan kerja selain PNS itu pasti sengsara. Seolah-olah quote-nya : "Gantungkan cita-citamu setinggi langit, jadilah PNS". Subhanalloh...

PNS Is Indonesian Dream

Saya selalu takjub melihat euphoria anak muda yang begitu excited bila ada pengumuman penerimaan PNS di Instansi Nganu milik negara. Saya sendiri dari dulu tidak tertarik blass ikutan tes CPNS. Saya nggak ceritakan di sini,  itu cuma soal selera, hati dan pikiran saja.

Ada beberapa alasan kenapa PNS masih jadi idaman : Durasi kerja pendek ( 37, 5 jam seminggu), gaji lumayan, tunjangan okelah, tanpa PHK, tanpa target, Sertifikat laku digadaikan, jaminan pensiun di hari tua dan sebagainya. Apesnya, banyak perusahaan swasta yang tidak mampu memenuhi itu semua. Apalagi sistem Outsourcing yang dicanangkan di era Megawati dulu, semakin membuat buruh atau karyawan swasta mrongos jaya.

Sebegitu terobsesinya rakyat pada PNS (juga adanya persaingan yang sangat ketat), akhirnya banyak yang tergoda lewat jalan belakang : nyogok!. Dan praktek percaloan pun berjaya. "Wani piro....!?"

Cara-cara nggak fair begitu yang perlu diberantas tuntas. Kalau masuk awalnya sudah menyuap (dengan biaya yang nggak sedikit) maka otomatis saat jadi PNS nanti, pasti berpikir untuk mengembalikan modal. Maka korupsi-lah yang jadi solusi.

Bukannya sok alim, tapi kalau awal masuknya sudah haram otomatis (gaji) anak turunnya juga haram. Tapi ironisnya, hal tersebut (yang sebetulnya aib) malah jadi sebuah kebanggaan : "Aku wingi melbu PNS mbayar 150 juta lho mboel.."

Saya sih monggo-monggo saja kalau ada yang lewat jalur cepat. Itu pilihan hidup juga. Mau lewat belakang atau samping..silakan. Yang nanggung juga mereka sendiri. Cuman menyerobot jatah orang yang seharusnya lebih layak, itu termasuk dzolim.

Terimakasihlah Pada Gus Dur

Di tahun 80'an ke bawah, jarang ada yang mau jadi Pegawai Negri. Karena gaji pas-pasan plus beras jatah yang kwalitasnya mblendess (dari pengalaman ibu saya yang berpuluh-puluh tahun jadi guru SMP). Kalau pun ada yang mau jadi PNS, itu karena terpaksa. Satu-satunya pilihan kerjaan yang bisa diambil. Gelem gak gelem, kudu gelem.

PNS baru berjaya di era Gus Dur. Bak anak emas, PNS begitu dimanja, gaji naik fantastik, tunjangan ditambah dan sebagainya. Alhasil, lowongan PNS pun jadi idaman para pencari kerja. Mereka berbondong-bondong mengikuti tes CPNS bak laron yang mendatangi lampu petromak. Pasukan bodrek serbuuuu..!

Tapi sayang kinerja para (oknum) PNS tetap nggak jauh berbeda. Uang rakyat terbuang sia-sia untuk menggaji (buta) para oknum tadi. Nggak sedikit yang terlihat di Mall atau pasar saat jam kerja. Tertangkap razia saat 'oh yess..oh noo' di sebuah Hotel. Atau begitu mudahnya minta ijin nggak masuk (berdasar pengalaman teman  yang suka nonton konser musik di luar kota).

Seperti juga pengalaman saya mengurus sesuatu di kelurahan, saya lihat mereka begitu rileksnya bekerja. Jam kerja pun masih bisa main ping pong. Lurahnya juga nggak tiap hari ngantor. Dan ada semacam kotak sumbangan yang harus diisi. "Ini administrasi seikhlasnya mas...gawe ngopi, tuku rokok, gorengan..5000..10.000..". Pungli semprul..!

'Negeri' Bukan Bahasa Birokrasi

Kata 'Negeri'  pada Pegawai Negri Sipil pun sebenarnya nggak tepat. Harusnya kepanjangan PNS adalah Pegawai Negara Sipil. Karena kata 'Negri' itu adalah bahasa budaya bukan bahasa konstitusi atau birokrasi. Kata 'Negeri' hanya cocok untuk  suatu karya seni maupun budaya.  Misal judul lagu "Padamu Negeri",  "Negeri Di Awan" dan sebagainya.  Coba saja ganti kata "Negeri" dengan "Negara" di lagu tadi. Bakalan jadi naif dan wagu. .."Padamu Negara", "Negara Di Awan".

Kata 'negeri' itu nuansa, sedangkan 'negara' itu benda padat. Maka Pegawai negeri itu tidak pernah 'beres' karena mereka hanya nuansa. Seharusnya memang Pegawai Negara (bukan Pegawai Negeri), sehingga mereka tidak terikat pada pemerintah. Jika ada pegawai negeri ada di kantor kabupaten, seharusnya mereka bukan bawahan Bupati.

**
Tapi sudahlah, semua orang berhak menentukan hidupnya sendiri-sendiri. Mau jadi PNS, berwiraswasta, buruh pabrik, wong gendeng atau apa pun..monggooo. Cuman ingatlah wahai PNS bahwa anda semua dibayar pakai uang negara (uang rakyat). Jadi hargai itu dengan kesungguhan kerja. Kalau anda mengingkarinya, maka itu adalah bentuk pengkhianatan pada rakyat.

Jadi sekarang bagi mereka yang belum jadi PNS atau yang gagal jadi PNS nggak usah memble. Hidup bahagia tidak harus jadi PNS. Jadilah apa pun yang anda mau dan yakinlah itu bisa membuat bahagia. So...Merdekakan dirimu dari ketakutan tidak bahagia bila tidak jadi PNS. Merdeka!!!!

Tulisan ini telah diterbitkan sebelumnya pada www.kompasiana.com oleh Robbi Gandamana

Monday, 21 September 2015

Selamat Datang Bus Rapid Transport (BRT) Sidoarjo

Kemarin (21/9) Pemkab Sidoarjo resmi meluncurkan moda transportasi publik yang menghubungkan Porong-Sidoarjo-Terminal Purabaya bertajuk Bus Rapid Transport (BRT). Peresmian dilakukan oleh Bupati Sidoarjo Saiful Illah di Kantor Dinas Perhubungan Kabupaten Sidoarjo, Kecamatan Candi Sidoarjo. Sebanyak 10 bus yang berasal dari bantuan Kementerian Perhubungan ini akan mulai mengaspal melintasi rute Terminal Porong - Jl Raya Porong - Jl Raya Tanggulangin - Jl Raya Candi - Jl Sunandar PS - Jl Diponegoro - Jl Pahlawan - Tol Sidoarjo - Tol Waru - Terminal Purabaya. Pemkab Sidoarjo dengan ini menjadi pemerintah daerah kesekian yang mencoba mengikuti kesuksesan Busway a.k.a Bus Transjakarta dalam mengembangkan moda transportasi masal dalam kota (komuter).
Peresmian BRT Sidoarjo - sumber : detik.com

Sama dengan sistem yang dikembangkan oleh Transjakarta, BRT Sidoarjo ini juga melintasi jalur khusus dan hanya berhenti di halte-halte tertentu saja. Bedanya jika di Jakarta Halte dan Lintasan Busway benar-benar bersifat khusus dan harus steril dari kendaraan lain, BRT Sidoarjo masih memanfaatkan jalur pedestrian untuk pembangunan halte dan belum ada pembatas yang jelas antara jalur BRT dengan jalur kendaraan lain. Untuk tiket jarak terdekat dan terjauh dipatok tarif Rp. 5.000,- sekali jalan. Khusus pada hari peluncuran, masyarakat pengguna jasa BRT tidak dipungut biaya alias gratis. "Dengan BRT ini, harapannya dapat mengurangi kemacetan terutama di jam berangkat dan pulang kerja," jelas Kepala Dishub Sidoarjo Joko Santosa sebagaimana dikutip detik.com. Adapun operator yang ditunjuk mengelola BRT Sidoarjo ini adalah Perum Damri.
halte BRT - sumber : www.detik.com

Meskipun demikian peresmian BRT Sidoarjo ini bukan tanpa masalah. Setelah sebelumnya ditolak oleh pemkot Surabaya terkait pembangunan Shelter di dalam Terminal Purabaya, keberadaan BRT ini juga masih menuai protes dari para pengusaha dan pengemudi angkutan lyn dan bison yang juga melayani trayek Purabaya-Sidoarjo-Porong. Para sopir beranggapan apabila Bus Rapid Transit diluncurkan, bukan tidak mungkin akan mengurangi pendapatan bagi sopir angkutan umum di Sidoarjo. Para sopir menginginkan agar Pemkab Sidoarjo memperhatikan terlebih dulu dampak sosial yang akan ditimbulkan. Seperti yang disampaikan oleh Jumadi, salah satu sopir lyn di Sidoarjo. Dirinya mengungkapkan bahwa apabila BRT ini diluncurkan, bukan tidak mungkin akan mengurangi pendapatan para sopir di Sidoarjo. “Semuanya tidak ada yang setuju karena nanti pendapatan berkurang. Ini saja tidak ada BRT pendapatan sudah berkurang,” kata Jumadi, sopir lyn sebagaimana dikutip surabayanews.com.
lyn jurusan porong-sidoarjo-purabaya dengan latar belakang halte BRT - sumber : www.jawapos.com

Berdasarkan pengalaman saya, menggunakan moda transportasi lyn ataupun bison untuk bepergian dari Purabaya-Sidoarjo atau sebaliknya memang cukup membutuhkan kesabaran. Angkutan Lyn biasanya tidak mau berangkat bila kapasitas tempat duduk belum dalam kondisi full seat. Pengemudi bahkan tidak peduli kalau ada penumpang yang membawa barang bawaan yang apabila dihitung volume dan beratnya bisa jadi setara dua orang penumpang. Padahal mungkin ada penumpang yang harus segera tiba di lokasi yang dituju dan ini pasti sangat menjengkelkan. Selain itu jangan harap anda menemukan fasilitas ac dan sebagainya, dapat armada yang bagus dengan kursi beludru saja sudah bisa dibilang beruntung. Kondisi ini bisa jadi merupakan dampak dari pendapatan pelaku angkutan umum di jalur ini sebagaimana yang disampaikan oleh bapak Jumadi. Kalau benar demikian, sebuah solusi harus segera ditemukan agar peluncuran BRT yang sejatinya sebuah terobosan hebat ini benar-benar berfungsi maksimal. Tentu kita tidak ingin suatu hari ada aksi-aksi negatif yang dilakukan oleh pihak yang merasa dirugikan akan hadirnya BRT ini, sebagaimana jamak ditemui di masyarakat kita belakangan ini.
Terlepas dari pro kontra dan segala permasalahan yang ada, BRT sudah diluncurkan. The show must go on. Kebutuhan masyarakat pengguna jasa transportasi akan sarana dan fasilitas transportasi yang murah, aman dan nyaman harus tetap diutamakan. Keberhasilan acara peluncuran ini juga harus diikuti keberhasilan akan harmonisasi dan sinergitas antara BRT dengan moda transportasi sejalur lainnya. Syukur-syukur operator BRT mau merangkul pengusaha dan pengemudi di jalur ini untuk bersama-sama menciptakan sarana transportasi yang murah, aman dan nyaman bagi masyarakat. Terakhir, saya ucapkan selamat untuk Pemkab dan masyarakat Sidoarjo atas peluncuran BRT. Ayo Naik Bus, Biar Nggak Bikin Macet. 
Potongan Berita dari harian Jawa Pos edisi 22/9/2015



Laku dan Tirakat masih Relevankah?

Laku dan tirakat adalah cara orang jawa dalam berusaha mencapai suatu keinginan mulai dari keinginan akan suatu ilmu, kekayaan, kesaktian, pangkat, rejeki dan sebagainya yang merupakan keinginan orang dalam hidup. Namun laku ini bukan lah suatu usaha yang berhubungan dengan keinginan tersebut tetapi lebih cenderung ke arah spiritual atau keyakinan.
Banyak macam orang dalam menjalani laku mulai dari puasa, tidak tidur, berendam di sungai, sampai kepada ritual yang aneh dan tidak masuk logika orang modern yg lain, yang kesemuanya bertujuan agar apa yang menjadi harapan mereka bisa tercapai.

Jika di aplikasikan pada jaman sekarang pastilah akan terasa berat untuk tidak tidur atau berpuasa selama 7 atau 40 hari penuh tanpa makan, sementara kewajiban atas pekerjaan dan aktifitas sehari hari menuntut orang untuk tetap fit dan dalam kondisi yang prima. Jika demikian apakah konsep tentang laku ini sudah tidak relevan lagi dengan kondisi jaman sekarang ataukah masih perlu untuk dijalankan?

Jawabanya adalah Ya, anda masih perlu menjalankan laku, karena konsep tentang laku ini masih harus dijalankan dengan menyesuaikan perubahan jaman.

Hakekat laku adalah upaya dalam menjaga agar tetap fokus pada mindset dan tujuan, dengan demikian akan mendorong dan mengarahkan perilaku seseorang agar selalu tetap dalam arah yang membangun tercapainya tujuan. Sebagai contoh misalnya ada orang yang menginginkan kekayaan maka dengan menjalankan laku dia akan menjauh dari tindakan pemborosan atau berfoya-foya dan kemudian akan cenderung hidup berhemat serta bekerja lebih keras. Jika anda ingin sukses dalam karir maka jadikanlah pekerjaan adalah laku anda sehingga mendorong anda bekerja lebih profesional, jujur dan disiplin dengan demikian anda akan terhindar dari kebiasaan dan etos kerja buruk yang dapat menghancurkan karir anda.

Jadi bisa disimpulkan bahwa yang membuat orang berhasil mencapai tujuannya dengan menjalankan laku adalah bukan karena bentuk ritualnya melainkan karena mereka akan cenderung tetap fokus kepada apa yang menjadi tujuan sehingga segala sesuatu yang dikerjakan akan terkondisi pada arah untuk mencapai tujuan. Jika kita ambil hubunganya dengan pemahaman tentang alam semesta maka laku akan memperjelas visualisasi tujuan yang terekam dalam memori otak kita sehingga respon alam semesta akan lebih cepat diterima. Jika anda ingin sukses dalam mencapai tujuan maka jalankan laku dengan cara tetaplah fokus pada keinginan untuk mencapai tujuan tersebut.

ardjel.blogspot.com/2009/11/laku-dan-tirakat-masih-relevankah.html

kesimpulannya yang diperlukan adalah sebuah tekad untuk menggapai sebuah tujuan, dengan tekad itu meskipun tujuan yang qt inginkan tidak tercapai,tapi qt akan mencapai "tujuan" qt yang sebenarnya

Hanya ada di Jawa Timur!!

PADA bus-bus Jawa Timuran ada pemandangan istimewa kalau Anda yang suka naik bus bumel (bus kelas ekonomi) dan jeli menyimak interior langit-langitnya. Pada besi aluminium untuk pegangan penumpangnya yang berdiri di lorong, Anda akan bisa temui tas kresek yang digantungkan.
Apa fungsi tas kresek ini? Buat mereka yang belum pernah bekerja atau tinggal di kota-kota di Jawa Tmur dan naik bus di provinsi ini pasti sedikit kaget dan bertanya-tanya. Tas kresek itu berfungsi untuk membantu penumpang yang mengalami mabuk di perjalanan. Biasanya, kondektur bus akan langsung sigap begitu ada penumpang yang mulai terdengar “whuekk whuekk…” alias mabuk dan mulai muntah.

Tas kresek ini berfungsi sebagai bak penampung sementara muntahan makanan dari perut penumpang yang mabuk perjalanan. Semuanya for free alias gratis sebagai bagian servis operator bus klas ekonomi untuk penumpangnya. Dengan begitu, bus tetap terawat bersih bebas dari kotoran muntahan penumpang, yang bagi sebagian orang, melihatnya apalagi mencium baunya, (maaf) terasa menjijikkan. Satu lagi keunikan bus di Jawa Timur yang pernah saya temui.
(disadur dari bismania.org)


yang mabuuk..yang mabuuk

Tulungagung-Jogja yang Mati Suri

Jalur Blitar-Tulungagung-Kediri-Madiun-Solo-Jogja/Purwokerto adalah salah satu trayek yang cukup lama beroperasi. Jalur ini selain dilayani oleh armada bumel juga menjadi jalur bus-bus malam jurusan jakarta dan bandung. Dulunya trayek ini boleh dibilang dikuasai oleh dua perusahaan besar, DAHLIA INDAH di Tulungagung, dan HASTI di Kediri. Pada masa kejayaannya kedua PO ini sangat populer di masyarakat pengguna jasa angkutan bus. menyandang image “bus balap” sebagaimana umumnya pemain di jalur saradan-caruban, kedua PO ini bahkan tak terkalahkan oleh PO-PO Surabaya-Jogja semacam EKA, MIRA, SUMBER KENCONO, MAPAN, JAYA UTAMA atau TRIGAYA.
PO Dahlia Indah - sumber : www.bismania.com
PO Hasti (sekarang fokus ke trayek Surabaya-Pare-Kediri) - sumber : www.expertofsomething.wordpress.com

Akan tetapi kehancuran yang dialami oleh kedua PO ini merubah kondisi trayek yang sebenarnya padat penumpang ini. HASTI tampaknya tak mampu terus-terusan “balapan” di jalur tengkorak ini, armadanya perlahan-lahan habis akibat seringnya mengalami laka. Bahkan “saudara kembar” nya, JAYA RAYA, juga ambruk ditimpa masalah yang sama. DAHLIA INDAH juga mengalami nasib yang tak jauh berbeda, armadanya hancur meski bukan karena laka, melainkan disinyalir karena tingkah laku kru-nya yang sering mencampur bahan bakar solar dengan minyak tanah bahkan minyak goreng(mau bikin gorengan mesin kali ya..hahahahaha). akibatnya armada-armada lambat laun DAHLIA INDAH tak mampu bersaing lagi dengan kecepatan MIRA, EKA ataupun SUMBER GROUP dan terus mengalami penurunan dari segi kuantitas armada.
PO Mira - sumber : www.bisjurusan.com

Hancurnya HASTI sebenarnya membuat DAHLIA INDAH menjadi pemain tunggal di jalur ini, akan tetapi hal ini tidak diimbangi dengan pelayanan yang bagus kepada konsumen. Tarif yang cenderung ngawur(khas bus setoran), armada yang kurang memadai masih ditambah pula dengan kebiasaan ngetem berjam-jam membuat bus ini lambat laun ditinggalkan konsumennya.
Di pihak lain bus-bus yang beroperasi di trayek Surabaya-Madiun-Solo-Jogja mengalami peningkatan kualitas armada dan pelayanan yang signifikan. Meski banyak pemain lama yang berguguran sehingga hanya menyisakan EKA, MIRA dan SUMBER GROUP, tetapi persaingan yang kompetitif di antara PO-PO ini membuat Gap antara dua trayek ini menjadi amat jauh. Hal ini berakibat pada beralihnya perilaku konsumen. Konsumen cenderung lebih suka “mengoper diri sendiri” dengan naik bus jurusan Tulungagung/Kediri-Kertosono-Surabaya sebelum menyambung bus jurusan Madiun-Solo-Jogja di kertosono, begitu juga sebaliknya. Ditambah lagi bus-bus yang beroperasi di jalur Tulungagung/Kediri-Kertosono-Surabaya juga mengalami peningkatan dalam hal pelayanan dan armada.
Jika perilaku konsumen ini bertahan dalam beberapa waktu lamanya, mungkin dapat dipastikan bahwa trayek ini mungkin akan segera mati. Sungguh ironis memang, sebuah trayek dengan kuota penumpang yang cukup signifikan harus “terhapus” dari peta jalur bus Indonesia. Untuk mencegah hal ini tentu para operator trayek ini harus mengusahakan untuk mengubah lagi perilaku konsumen pengguna jalur ini. Faktor eksternal yang dalam hal ini berupa kemajuan dari trayek lain yang bersinggungan dengan trayek ini tentu tidak dapat dicegah. Yang bisa dilakukan tentunya perbaikan faktor intern, yakni kualitas pelayanan dan armada dari pemain-pemain di jalur ini. Meski tampaknya sangat sulit berharap pemain tunggal jaur ini, DAHLIA INDAH akan mengubah orientasi dan kebijakan manajemen perusahaannya.
Keadaan ini sebenarnya sempat ditangkap oleh beberapa PO yang berusaha mengambil peluang dari “keanehan” jalur ini. ROSALIA INDAH muncul dengan trayek yang hampir sama persis dengan DAHLIA INDAH, yaitu Malang-Blitar-Tulungagung-Kediri-Madiun-Solo-Jogja-Purwokerto-Cilacap. Tetapi sebagaimana brand  ROSALIA INDAH, PO ini hanya menawarkan bus-bus malam yang pangsa pasarnya tentu berbeda dengan Bus bumel. Kemudian muncul harapan besar ketika RESTU dengan armada ATB Pandanya hadir dengan trayek aneh Tulungagung-Madiun-Solo-Surabaya-Tulungagung. Semua orang pasti mengenal reputasi RESTU yang menggebrak dunia bis jawa timur dengan Restu Panda. Tetapi ternyata RESTU juga tidak bertahan lama, beberapa bulan setelah beroperasi armada Panda menghilang dari terminal Tulungagung. Tampaknya 1 unit armada panda belum mampu menunjukkan keseriusan PO yang berasal dari kota apel ini untuk “menghidupkan” jalur ini.

 
PO Rosalia Indah - sumber : www.bismania.com

Pareto's Theory a.k.a Dahlan Iskan's Theory

Dalam sebuah paparan yang disampaikan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada tanggal 16 September 2013 di Kantor KPU, pimpinan KPU mengutip sebuah kata-kata yang diucapkan oleh Menteri BUMN Dahlan Iskan. "Dia bilang di setiap komunitas yang jelek cuma 10 persen, yang baik juga 10 persen, yang lainnya ikut-ikutan. Kalau direkturnya baik, komisionernya baik, menterinya baik, maka dia punya modal 10 persen, 80 persennya pasti ikut," kata Adnan Pandu Praja pimpinan KPU yang hadir di acara yang digelar sebagai persiapan pelaksanaan pemilu 2014 tersebut. http://news.detik.com/read/2013/09/16/151613/2359998/10/kpk-paparkan-teori-dahlan-iskan-untuk-cegah-korupsi
Dahlan Iskan - sumber : www.nasional.harianterbit.com
Teori yang populer di masyarakat ini disebut-sebut merupakan modifikasi dari toeri pareto, yang dibuat oleh Joseph M. Juran berdasarkan pendapat ahli ekonomi italia, vilfredo pareto. Meski sebenarnya terdapat beberapa perbedaan yang signifikan antara teori pareto dengan teori dahlan iskan. Teori pareto menyatakan bahwa pada banyak kejadian 80% efeknya disebabkan oleh 20% penyebabnya. Teori ini sendiri tidak bisa diartikan secara membabi buta hanya melalui definisi harfiahnya saja. Mengingat teori dibuat hanya berdasarkan pengamatan pareto semata bahwa 80% pendapatan di Italia pada tahun 1906 hanya dimiliki oleh 20% populasi saja. Akan sangat aneh misalkan anda mengatakan bahwa 80% pekerjaan dilakukan oleh hanya 20% karyawan saja. Ini akan sangat berbahaya bagi kinerja anda dan organisasi secara keseluruhan.
 vilfredo pareto - sumber : www.toolshero.com

Kalaupun benar teori dahlan iskan disebut modifikasi dari teori pareto, maka hanya ada satu persamaan di antara keduanya. Yaitu kedua teori ini tidak bisa diartikan atau diaplikasikan secara membabi buta, secara harfiah apalagi hanya mengutip sebagian teorinya saja. Contohnya jika kita mengatakan bahwa pada suatu komunitas pasti ada 10% yang baik, 10% yang buruk dan 80% sisanya hanyalah pengikut, tanpa menambah penjelasan bahwa komisioner, direktur atau pimpinan-lah yang sebenarnya menentukan arah dan kinerja organisasi, bisa jadi kita akan memecah belah organisasi atau komunitas anda sendiri.
Hal ini masih belum ditambah lagi dengan kesulitan yang akan anda hadapi dalam menentukan kriteria “baik” dan “tidak baik”. Sebagai pimpinan kita mungkin bisa menilai seseorang “baik” hanya karena dia hadir tepat waktu, pulang sesuai jadwal, mengerjakan pekerjaan sesuai perintah anda dan selalu tersenyum saat berpapasan dengan anda. Tapi kita tidak akan pernah tahu apa sebenarnya motivasi dari anak buah kita, apakah benar dia sedang bekerja dengan tulus dan bersemangat, ingin menunjukkan kinerja dan kualitas dirinya, atau hanya menginginkan sesuatu dari pimpinannya. Anak buah yang “baik” tentu bukanlah orang yang selalu mengatakan “baik bu,” atau “baik pak,” ketika pimpinan memberikan perintah tanpa bisa memberikan pandangan kritis terhadap apa yang diperintahkan dan dampaknya terhadap kinerja organisasi. Dahlan Iskan sendiri mengatakan bahwa anak buah yang baik, adalah anak buah yang loyal kepada atasannya tetapi juga KRITIS, anak buah yang patuh tapi juga bisa berpikir mana yang baik dan mana yang tidak baik. Karena dengan menjadi anak buah yang kritis, sesungguhnya anak buah itu bisa menyelamatkan atasannya dari situasi kritis yang mungkin akan dihadapi. Tetapi jika ke-kritis-annya hanya bertujuan untuk mementingkan kepentingannya sendiri, maka kita bisa langsung memberikan label “tidak baik” baginya.
Karena itulah teori dahlan iskan ini tidak bisa serta merta diaplikasikan dan diterjemahkan secara harfiah saja. Kualitas kita sebagai pemimpin akan sangat menentukan sehingga kita benar-benar bisa memilah dan memilih mana yang baik dan mana yang tidak baik. Ditambah lagi jika benar menurut teori Dahlan Iskan bahwa yang baik dan yang buruk berebut pengaruh, maka kualitas dari top manager –lah yang bisa membawa suatu organisasi kepada arah dan tujuan yang dikehendaki atau justru ke arah sebaliknya.