Saya sangat berhati-hati menulis ini, takut banyak orang yang
tersinggung. Tulisan ini tidak bermaksud menyudutkan atau sinis pada
pilihan hidup seseorang untuk jadi PNS. Sama sekali bukan itu. Kerja apa
pun nggak masalah, asalkan halal, bisa menghidupi anak istri plus ada
dana sisa buat keliling dunia...maya.
Tulisan ini sekedar
refleksi pada keheranan saya pada orang yang begitu mengagungkan PNS.
Dan praktek kecurangan saat penerimaan PNS. Seolah-seolah PNS adalah
sebuah kasta tertinggi. PNS bisa mendongkrak status sosial sampai ke
posisi puncak di masyarakat. Serta seakan-akan PNS menjamin hidup pasti
bahagia. Dan kerja selain PNS itu pasti sengsara. Seolah-olah quote-nya :
"Gantungkan cita-citamu setinggi langit, jadilah PNS". Subhanalloh...
PNS Is Indonesian Dream
Saya
selalu takjub melihat euphoria anak muda yang begitu excited bila ada
pengumuman penerimaan PNS di Instansi Nganu milik negara. Saya sendiri
dari dulu tidak tertarik blass ikutan tes CPNS. Saya nggak ceritakan di
sini, itu cuma soal selera, hati dan pikiran saja.
Ada beberapa
alasan kenapa PNS masih jadi idaman : Durasi kerja pendek ( 37, 5 jam
seminggu), gaji lumayan, tunjangan okelah, tanpa PHK, tanpa target,
Sertifikat laku digadaikan, jaminan pensiun di hari tua dan sebagainya.
Apesnya, banyak perusahaan swasta yang tidak mampu memenuhi itu semua.
Apalagi sistem Outsourcing yang dicanangkan di era Megawati dulu,
semakin membuat buruh atau karyawan swasta mrongos jaya.
Sebegitu
terobsesinya rakyat pada PNS (juga adanya persaingan yang sangat
ketat), akhirnya banyak yang tergoda lewat jalan belakang : nyogok!. Dan
praktek percaloan pun berjaya. "Wani piro....!?"
Cara-cara nggak
fair begitu yang perlu diberantas tuntas. Kalau masuk awalnya sudah
menyuap (dengan biaya yang nggak sedikit) maka otomatis saat jadi PNS
nanti, pasti berpikir untuk mengembalikan modal. Maka korupsi-lah yang
jadi solusi.
Bukannya sok alim, tapi kalau awal masuknya sudah
haram otomatis (gaji) anak turunnya juga haram. Tapi ironisnya, hal
tersebut (yang sebetulnya aib) malah jadi sebuah kebanggaan : "Aku wingi
melbu PNS mbayar 150 juta lho mboel.."
Saya sih monggo-monggo
saja kalau ada yang lewat jalur cepat. Itu pilihan hidup juga. Mau lewat
belakang atau samping..silakan. Yang nanggung juga mereka sendiri.
Cuman menyerobot jatah orang yang seharusnya lebih layak, itu termasuk
dzolim.
Terimakasihlah Pada Gus Dur
Di
tahun 80'an ke bawah, jarang ada yang mau jadi Pegawai Negri. Karena
gaji pas-pasan plus beras jatah yang kwalitasnya mblendess (dari
pengalaman ibu saya yang berpuluh-puluh tahun jadi guru SMP). Kalau pun
ada yang mau jadi PNS, itu karena terpaksa. Satu-satunya pilihan kerjaan
yang bisa diambil. Gelem gak gelem, kudu gelem.
PNS baru berjaya
di era Gus Dur. Bak anak emas, PNS begitu dimanja, gaji naik fantastik,
tunjangan ditambah dan sebagainya. Alhasil, lowongan PNS pun jadi
idaman para pencari kerja. Mereka berbondong-bondong mengikuti tes CPNS
bak laron yang mendatangi lampu petromak. Pasukan bodrek serbuuuu..!
Tapi sayang kinerja para (oknum) PNS tetap nggak jauh berbeda. Uang rakyat terbuang sia-sia untuk menggaji (buta) para oknum tadi. Nggak sedikit yang terlihat di Mall atau pasar saat jam kerja. Tertangkap razia saat 'oh yess..oh noo'
di sebuah Hotel. Atau begitu mudahnya minta ijin nggak masuk (berdasar
pengalaman teman yang suka nonton konser musik di luar kota).
Seperti
juga pengalaman saya mengurus sesuatu di kelurahan, saya lihat mereka
begitu rileksnya bekerja. Jam kerja pun masih bisa main ping pong.
Lurahnya juga nggak tiap hari ngantor. Dan ada semacam kotak sumbangan
yang harus diisi. "Ini administrasi seikhlasnya mas...gawe ngopi, tuku
rokok, gorengan..5000..10.000..". Pungli semprul..!
'Negeri' Bukan Bahasa Birokrasi
Kata
'Negeri' pada Pegawai Negri Sipil pun sebenarnya nggak tepat. Harusnya
kepanjangan PNS adalah Pegawai Negara Sipil. Karena kata 'Negri' itu
adalah bahasa budaya bukan bahasa konstitusi atau birokrasi. Kata
'Negeri' hanya cocok untuk suatu karya seni maupun budaya. Misal judul
lagu "Padamu Negeri", "Negeri Di Awan" dan sebagainya. Coba saja
ganti kata "Negeri" dengan "Negara" di lagu tadi. Bakalan jadi naif dan
wagu. .."Padamu Negara", "Negara Di Awan".
Kata 'negeri' itu
nuansa, sedangkan 'negara' itu benda padat. Maka Pegawai negeri itu
tidak pernah 'beres' karena mereka hanya nuansa. Seharusnya memang
Pegawai Negara (bukan Pegawai Negeri), sehingga mereka tidak terikat
pada pemerintah. Jika ada pegawai negeri ada di kantor kabupaten,
seharusnya mereka bukan bawahan Bupati.
**
Tapi sudahlah,
semua orang berhak menentukan hidupnya sendiri-sendiri. Mau jadi PNS,
berwiraswasta, buruh pabrik, wong gendeng atau apa pun..monggooo. Cuman
ingatlah wahai PNS bahwa anda semua dibayar pakai uang negara (uang
rakyat). Jadi hargai itu dengan kesungguhan kerja. Kalau anda
mengingkarinya, maka itu adalah bentuk pengkhianatan pada rakyat.
Jadi
sekarang bagi mereka yang belum jadi PNS atau yang gagal jadi PNS nggak
usah memble. Hidup bahagia tidak harus jadi PNS. Jadilah apa pun yang
anda mau dan yakinlah itu bisa membuat bahagia. So...Merdekakan dirimu
dari ketakutan tidak bahagia bila tidak jadi PNS. Merdeka!!!!
Tulisan ini telah diterbitkan sebelumnya pada www.kompasiana.com oleh Robbi Gandamana
Thursday, 24 September 2015
Monday, 21 September 2015
Selamat Datang Bus Rapid Transport (BRT) Sidoarjo
Kemarin (21/9) Pemkab Sidoarjo resmi meluncurkan moda transportasi publik yang menghubungkan Porong-Sidoarjo-Terminal Purabaya bertajuk Bus Rapid Transport (BRT). Peresmian dilakukan oleh Bupati Sidoarjo Saiful Illah di Kantor Dinas Perhubungan Kabupaten Sidoarjo, Kecamatan Candi Sidoarjo. Sebanyak 10 bus yang berasal dari bantuan Kementerian Perhubungan ini akan mulai mengaspal melintasi rute Terminal Porong - Jl Raya Porong - Jl Raya Tanggulangin - Jl Raya Candi -
Jl Sunandar PS - Jl Diponegoro - Jl Pahlawan - Tol Sidoarjo - Tol Waru -
Terminal Purabaya. Pemkab Sidoarjo dengan ini menjadi pemerintah daerah kesekian yang mencoba mengikuti kesuksesan Busway a.k.a Bus Transjakarta dalam mengembangkan moda transportasi masal dalam kota (komuter).
Peresmian BRT Sidoarjo - sumber : detik.com
Sama dengan sistem yang dikembangkan oleh Transjakarta, BRT Sidoarjo ini juga melintasi jalur khusus dan hanya berhenti di halte-halte tertentu saja. Bedanya jika di Jakarta Halte dan Lintasan Busway benar-benar bersifat khusus dan harus steril dari kendaraan lain, BRT Sidoarjo masih memanfaatkan jalur pedestrian untuk pembangunan halte dan belum ada pembatas yang jelas antara jalur BRT dengan jalur kendaraan lain. Untuk tiket jarak terdekat dan terjauh dipatok tarif Rp. 5.000,- sekali jalan. Khusus pada hari peluncuran, masyarakat pengguna jasa BRT tidak dipungut biaya alias gratis. "Dengan BRT ini, harapannya dapat mengurangi kemacetan terutama di jam berangkat dan pulang kerja," jelas Kepala Dishub Sidoarjo Joko Santosa sebagaimana dikutip detik.com. Adapun operator yang ditunjuk mengelola BRT Sidoarjo ini adalah Perum Damri.
halte BRT - sumber : www.detik.com
Meskipun demikian peresmian BRT Sidoarjo ini bukan tanpa masalah. Setelah sebelumnya ditolak oleh pemkot Surabaya terkait pembangunan Shelter di dalam Terminal Purabaya, keberadaan BRT ini juga masih menuai protes dari para pengusaha dan pengemudi angkutan lyn dan bison yang juga melayani trayek Purabaya-Sidoarjo-Porong. Para sopir beranggapan apabila Bus Rapid Transit diluncurkan, bukan
tidak mungkin akan mengurangi pendapatan bagi sopir angkutan umum di
Sidoarjo. Para sopir menginginkan agar Pemkab Sidoarjo memperhatikan
terlebih dulu dampak sosial yang akan ditimbulkan. Seperti yang disampaikan oleh Jumadi, salah satu sopir lyn di
Sidoarjo. Dirinya mengungkapkan bahwa apabila BRT ini diluncurkan, bukan
tidak mungkin akan mengurangi pendapatan para sopir di Sidoarjo. “Semuanya tidak ada yang setuju karena nanti pendapatan berkurang.
Ini saja tidak ada BRT pendapatan sudah berkurang,” kata Jumadi, sopir
lyn sebagaimana dikutip surabayanews.com.
lyn jurusan porong-sidoarjo-purabaya dengan latar belakang halte BRT - sumber : www.jawapos.com
Berdasarkan pengalaman saya, menggunakan moda transportasi lyn ataupun bison untuk bepergian dari Purabaya-Sidoarjo atau sebaliknya memang cukup membutuhkan kesabaran. Angkutan Lyn biasanya tidak mau berangkat bila kapasitas tempat duduk belum dalam kondisi full seat. Pengemudi bahkan tidak peduli kalau ada penumpang yang membawa barang bawaan yang apabila dihitung volume dan beratnya bisa jadi setara dua orang penumpang. Padahal mungkin ada penumpang yang harus segera tiba di lokasi yang dituju dan ini pasti sangat menjengkelkan. Selain itu jangan harap anda menemukan fasilitas ac dan sebagainya, dapat armada yang bagus dengan kursi beludru saja sudah bisa dibilang beruntung. Kondisi ini bisa jadi merupakan dampak dari pendapatan pelaku angkutan umum di jalur ini sebagaimana yang disampaikan oleh bapak Jumadi. Kalau benar demikian, sebuah solusi harus segera ditemukan agar peluncuran BRT yang sejatinya sebuah terobosan hebat ini benar-benar berfungsi maksimal. Tentu kita tidak ingin suatu hari ada aksi-aksi negatif yang dilakukan oleh pihak yang merasa dirugikan akan hadirnya BRT ini, sebagaimana jamak ditemui di masyarakat kita belakangan ini.
Terlepas dari pro kontra dan segala permasalahan yang ada, BRT sudah diluncurkan. The show must go on. Kebutuhan masyarakat pengguna jasa transportasi akan sarana dan fasilitas transportasi yang murah, aman dan nyaman harus tetap diutamakan. Keberhasilan acara peluncuran ini juga harus diikuti keberhasilan akan harmonisasi dan sinergitas antara BRT dengan moda transportasi sejalur lainnya. Syukur-syukur operator BRT mau merangkul pengusaha dan pengemudi di jalur ini untuk bersama-sama menciptakan sarana transportasi yang murah, aman dan nyaman bagi masyarakat. Terakhir, saya ucapkan selamat untuk Pemkab dan masyarakat Sidoarjo atas peluncuran BRT. Ayo Naik Bus, Biar Nggak Bikin Macet.
Potongan Berita dari harian Jawa Pos edisi 22/9/2015
Laku dan Tirakat masih Relevankah?
Laku dan tirakat adalah cara orang jawa dalam berusaha mencapai
suatu keinginan mulai dari keinginan akan suatu ilmu, kekayaan,
kesaktian, pangkat, rejeki dan sebagainya yang merupakan keinginan
orang dalam hidup. Namun laku ini bukan lah suatu usaha yang
berhubungan dengan keinginan tersebut tetapi lebih cenderung ke arah
spiritual atau keyakinan.
Banyak
macam orang dalam menjalani laku mulai dari puasa, tidak tidur,
berendam di sungai, sampai kepada ritual yang aneh dan tidak masuk
logika orang modern yg lain, yang kesemuanya bertujuan agar apa yang
menjadi harapan mereka bisa tercapai.
Jika di aplikasikan pada jaman sekarang pastilah akan terasa berat untuk tidak tidur atau berpuasa selama 7 atau 40 hari penuh tanpa makan, sementara kewajiban atas pekerjaan dan aktifitas sehari hari menuntut orang untuk tetap fit dan dalam kondisi yang prima. Jika demikian apakah konsep tentang laku ini sudah tidak relevan lagi dengan kondisi jaman sekarang ataukah masih perlu untuk dijalankan?
Jawabanya adalah Ya, anda masih perlu menjalankan laku, karena konsep tentang laku ini masih harus dijalankan dengan menyesuaikan perubahan jaman.
Hakekat laku adalah upaya dalam menjaga agar tetap fokus pada mindset dan tujuan, dengan demikian akan mendorong dan mengarahkan perilaku seseorang agar selalu tetap dalam arah yang membangun tercapainya tujuan. Sebagai contoh misalnya ada orang yang menginginkan kekayaan maka dengan menjalankan laku dia akan menjauh dari tindakan pemborosan atau berfoya-foya dan kemudian akan cenderung hidup berhemat serta bekerja lebih keras. Jika anda ingin sukses dalam karir maka jadikanlah pekerjaan adalah laku anda sehingga mendorong anda bekerja lebih profesional, jujur dan disiplin dengan demikian anda akan terhindar dari kebiasaan dan etos kerja buruk yang dapat menghancurkan karir anda.
Jadi bisa disimpulkan bahwa yang membuat orang berhasil mencapai tujuannya dengan menjalankan laku adalah bukan karena bentuk ritualnya melainkan karena mereka akan cenderung tetap fokus kepada apa yang menjadi tujuan sehingga segala sesuatu yang dikerjakan akan terkondisi pada arah untuk mencapai tujuan. Jika kita ambil hubunganya dengan pemahaman tentang alam semesta maka laku akan memperjelas visualisasi tujuan yang terekam dalam memori otak kita sehingga respon alam semesta akan lebih cepat diterima. Jika anda ingin sukses dalam mencapai tujuan maka jalankan laku dengan cara tetaplah fokus pada keinginan untuk mencapai tujuan tersebut.
ardjel.blogspot.com/2009/11/ laku-dan-tirakat-masih-relevank ah.html
kesimpulannya yang diperlukan adalah sebuah tekad untuk menggapai sebuah tujuan, dengan tekad itu meskipun tujuan yang qt inginkan tidak tercapai,tapi qt akan mencapai "tujuan" qt yang sebenarnya
Jika di aplikasikan pada jaman sekarang pastilah akan terasa berat untuk tidak tidur atau berpuasa selama 7 atau 40 hari penuh tanpa makan, sementara kewajiban atas pekerjaan dan aktifitas sehari hari menuntut orang untuk tetap fit dan dalam kondisi yang prima. Jika demikian apakah konsep tentang laku ini sudah tidak relevan lagi dengan kondisi jaman sekarang ataukah masih perlu untuk dijalankan?
Jawabanya adalah Ya, anda masih perlu menjalankan laku, karena konsep tentang laku ini masih harus dijalankan dengan menyesuaikan perubahan jaman.
Hakekat laku adalah upaya dalam menjaga agar tetap fokus pada mindset dan tujuan, dengan demikian akan mendorong dan mengarahkan perilaku seseorang agar selalu tetap dalam arah yang membangun tercapainya tujuan. Sebagai contoh misalnya ada orang yang menginginkan kekayaan maka dengan menjalankan laku dia akan menjauh dari tindakan pemborosan atau berfoya-foya dan kemudian akan cenderung hidup berhemat serta bekerja lebih keras. Jika anda ingin sukses dalam karir maka jadikanlah pekerjaan adalah laku anda sehingga mendorong anda bekerja lebih profesional, jujur dan disiplin dengan demikian anda akan terhindar dari kebiasaan dan etos kerja buruk yang dapat menghancurkan karir anda.
Jadi bisa disimpulkan bahwa yang membuat orang berhasil mencapai tujuannya dengan menjalankan laku adalah bukan karena bentuk ritualnya melainkan karena mereka akan cenderung tetap fokus kepada apa yang menjadi tujuan sehingga segala sesuatu yang dikerjakan akan terkondisi pada arah untuk mencapai tujuan. Jika kita ambil hubunganya dengan pemahaman tentang alam semesta maka laku akan memperjelas visualisasi tujuan yang terekam dalam memori otak kita sehingga respon alam semesta akan lebih cepat diterima. Jika anda ingin sukses dalam mencapai tujuan maka jalankan laku dengan cara tetaplah fokus pada keinginan untuk mencapai tujuan tersebut.
ardjel.blogspot.com/2009/11/
kesimpulannya yang diperlukan adalah sebuah tekad untuk menggapai sebuah tujuan, dengan tekad itu meskipun tujuan yang qt inginkan tidak tercapai,tapi qt akan mencapai "tujuan" qt yang sebenarnya
Hanya ada di Jawa Timur!!
PADA bus-bus Jawa Timuran ada pemandangan istimewa kalau Anda yang
suka naik bus bumel (bus kelas ekonomi) dan jeli menyimak interior
langit-langitnya. Pada besi aluminium untuk pegangan penumpangnya yang
berdiri di lorong, Anda akan bisa temui tas kresek yang digantungkan.
Apa fungsi tas kresek ini? Buat mereka yang belum pernah bekerja atau tinggal
di kota-kota di Jawa Tmur dan naik bus di provinsi ini pasti sedikit
kaget dan bertanya-tanya. Tas kresek itu berfungsi untuk membantu
penumpang yang mengalami mabuk di perjalanan. Biasanya, kondektur bus
akan langsung sigap begitu ada penumpang yang mulai terdengar “whuekk
whuekk…” alias mabuk dan mulai muntah.
Tas kresek ini berfungsi sebagai bak penampung sementara muntahan makanan dari perut penumpang yang mabuk perjalanan. Semuanya for free alias
gratis sebagai bagian servis operator bus klas ekonomi untuk
penumpangnya. Dengan begitu, bus tetap terawat bersih bebas dari kotoran
muntahan penumpang, yang bagi sebagian orang, melihatnya apalagi
mencium baunya, (maaf) terasa menjijikkan. Satu lagi keunikan bus di
Jawa Timur yang pernah saya temui.
(disadur dari bismania.org)
yang mabuuk..yang mabuuk
Tulungagung-Jogja yang Mati Suri
Jalur Blitar-Tulungagung-Kediri-Madi un-Solo-Jogja/Purwokerto
adalah salah satu trayek yang cukup lama beroperasi. Jalur ini selain
dilayani oleh armada bumel juga menjadi jalur bus-bus malam jurusan
jakarta dan bandung. Dulunya trayek ini boleh dibilang dikuasai oleh dua
perusahaan besar, DAHLIA INDAH di Tulungagung, dan HASTI di Kediri.
Pada masa kejayaannya kedua PO ini
sangat populer di masyarakat pengguna jasa angkutan bus. menyandang
image “bus balap” sebagaimana umumnya pemain di jalur saradan-caruban,
kedua PO ini bahkan tak terkalahkan oleh PO-PO Surabaya-Jogja semacam
EKA, MIRA, SUMBER KENCONO, MAPAN, JAYA UTAMA atau TRIGAYA.
PO Dahlia Indah - sumber : www.bismania.com
PO Hasti (sekarang fokus ke trayek Surabaya-Pare-Kediri) - sumber : www.expertofsomething.wordpress.com
Akan
tetapi kehancuran yang dialami oleh kedua PO ini merubah kondisi trayek
yang sebenarnya padat penumpang ini. HASTI tampaknya tak mampu
terus-terusan “balapan” di jalur tengkorak ini, armadanya perlahan-lahan
habis akibat seringnya mengalami laka. Bahkan “saudara kembar” nya,
JAYA RAYA, juga ambruk ditimpa masalah yang sama. DAHLIA INDAH juga
mengalami nasib yang tak jauh berbeda, armadanya hancur meski bukan
karena laka, melainkan disinyalir karena tingkah laku kru-nya yang
sering mencampur bahan bakar solar dengan minyak tanah bahkan minyak
goreng(mau bikin gorengan mesin kali ya..hahahahaha). akibatnya
armada-armada lambat laun DAHLIA INDAH tak mampu bersaing lagi dengan
kecepatan MIRA, EKA ataupun SUMBER GROUP dan terus mengalami penurunan
dari segi kuantitas armada.
PO Mira - sumber : www.bisjurusan.com
Hancurnya HASTI sebenarnya membuat
DAHLIA INDAH menjadi pemain tunggal di jalur ini, akan tetapi hal ini
tidak diimbangi dengan pelayanan yang bagus kepada konsumen. Tarif yang
cenderung ngawur(khas bus setoran), armada yang kurang memadai masih
ditambah pula dengan kebiasaan ngetem berjam-jam membuat bus ini lambat laun ditinggalkan konsumennya.
Di
pihak lain bus-bus yang beroperasi di trayek Surabaya-Madiun-Solo-Jogja
mengalami peningkatan kualitas armada dan pelayanan yang signifikan.
Meski banyak pemain lama yang berguguran sehingga hanya menyisakan EKA,
MIRA dan SUMBER GROUP, tetapi persaingan yang kompetitif di antara
PO-PO ini membuat Gap antara dua trayek ini menjadi amat
jauh. Hal ini berakibat pada beralihnya perilaku konsumen. Konsumen
cenderung lebih suka “mengoper diri sendiri” dengan naik bus jurusan
Tulungagung/ Kediri-Kertosono-Surabaya
sebelum menyambung bus jurusan Madiun-Solo-Jogja di kertosono, begitu
juga sebaliknya. Ditambah lagi bus-bus yang beroperasi di jalur
Tulungagung/ Kediri-Kertosono-Surabaya juga mengalami peningkatan dalam hal pelayanan dan armada.
Jika
perilaku konsumen ini bertahan dalam beberapa waktu lamanya, mungkin
dapat dipastikan bahwa trayek ini mungkin akan segera mati. Sungguh
ironis memang, sebuah trayek dengan kuota penumpang yang cukup
signifikan harus “terhapus” dari peta jalur bus Indonesia. Untuk
mencegah hal ini tentu para operator trayek ini harus mengusahakan untuk
mengubah lagi perilaku konsumen pengguna jalur ini. Faktor eksternal
yang dalam hal ini berupa kemajuan dari trayek lain yang bersinggungan
dengan trayek ini tentu tidak dapat dicegah. Yang bisa dilakukan
tentunya perbaikan faktor intern, yakni kualitas pelayanan dan armada
dari pemain-pemain di jalur ini. Meski tampaknya sangat sulit berharap
pemain tunggal jaur ini, DAHLIA INDAH akan mengubah orientasi dan
kebijakan manajemen perusahaannya.
Keadaan ini sebenarnya
sempat ditangkap oleh beberapa PO yang berusaha mengambil peluang dari
“keanehan” jalur ini. ROSALIA INDAH muncul dengan trayek yang hampir
sama persis dengan DAHLIA INDAH, yaitu Malang-Blitar-Tulungagung-Kedi ri-Madiun-Solo-Jogja-Purwokert o-Cilacap. Tetapi sebagaimana brand ROSALIA
INDAH, PO ini hanya menawarkan bus-bus malam yang pangsa pasarnya tentu
berbeda dengan Bus bumel. Kemudian muncul harapan besar ketika RESTU
dengan armada ATB Pandanya hadir dengan trayek aneh
Tulungagung-Madiun-Solo-Suraba ya-Tulungagung.
Semua orang pasti mengenal reputasi RESTU yang menggebrak dunia bis
jawa timur dengan Restu Panda. Tetapi ternyata RESTU juga tidak bertahan
lama, beberapa bulan setelah beroperasi armada Panda menghilang dari
terminal Tulungagung. Tampaknya 1 unit armada panda belum mampu
menunjukkan keseriusan PO yang berasal dari kota apel ini untuk
“menghidupkan” jalur ini.
PO Rosalia Indah - sumber : www.bismania.com
Pareto's Theory a.k.a Dahlan Iskan's Theory
Dalam sebuah paparan yang disampaikan oleh Komisi Pemberantasan
Korupsi (KPK) pada tanggal 16 September 2013 di Kantor KPU, pimpinan KPU
mengutip sebuah kata-kata yang diucapkan oleh Menteri BUMN Dahlan
Iskan. "Dia bilang di setiap komunitas yang jelek cuma 10 persen, yang
baik juga 10 persen, yang lainnya ikut-ikutan. Kalau direkturnya baik,
komisionernya baik, menterinya baik,
maka dia punya modal 10 persen, 80 persennya pasti ikut," kata Adnan
Pandu Praja pimpinan KPU yang hadir di acara yang digelar sebagai
persiapan pelaksanaan pemilu 2014 tersebut. http://news.detik.com/read/ 2013/09/16/151613/2359998/10/ kpk-paparkan-teori-dahlan-iskan -untuk-cegah-korupsi
Dahlan Iskan - sumber : www.nasional.harianterbit.com
Teori
yang populer di masyarakat ini disebut-sebut merupakan modifikasi dari
toeri pareto, yang dibuat oleh Joseph M. Juran berdasarkan pendapat ahli
ekonomi italia, vilfredo pareto. Meski sebenarnya terdapat beberapa
perbedaan yang signifikan antara teori pareto dengan teori dahlan iskan.
Teori pareto menyatakan bahwa pada banyak kejadian 80% efeknya
disebabkan oleh 20% penyebabnya. Teori ini sendiri tidak bisa diartikan
secara membabi buta hanya melalui definisi harfiahnya saja. Mengingat
teori dibuat hanya berdasarkan pengamatan pareto semata bahwa 80%
pendapatan di Italia pada tahun 1906 hanya dimiliki oleh 20% populasi
saja. Akan sangat aneh misalkan anda mengatakan bahwa 80% pekerjaan
dilakukan oleh hanya 20% karyawan saja. Ini akan sangat berbahaya bagi
kinerja anda dan organisasi secara keseluruhan.
vilfredo pareto - sumber : www.toolshero.com
Kalaupun benar
teori dahlan iskan disebut modifikasi dari teori pareto, maka hanya ada
satu persamaan di antara keduanya. Yaitu kedua teori ini tidak bisa
diartikan atau diaplikasikan secara membabi buta, secara harfiah apalagi
hanya mengutip sebagian teorinya saja. Contohnya jika kita mengatakan
bahwa pada suatu komunitas pasti ada 10% yang baik, 10% yang buruk dan
80% sisanya hanyalah pengikut, tanpa menambah penjelasan bahwa
komisioner, direktur atau pimpinan-lah yang sebenarnya menentukan arah
dan kinerja organisasi, bisa jadi kita akan memecah belah organisasi
atau komunitas anda sendiri.
Hal ini masih belum ditambah lagi
dengan kesulitan yang akan anda hadapi dalam menentukan kriteria “baik”
dan “tidak baik”. Sebagai pimpinan kita mungkin bisa menilai seseorang
“baik” hanya karena dia hadir tepat waktu, pulang sesuai jadwal,
mengerjakan pekerjaan sesuai perintah anda dan selalu tersenyum saat
berpapasan dengan anda. Tapi kita tidak akan pernah tahu apa sebenarnya
motivasi dari anak buah kita, apakah benar dia sedang bekerja dengan
tulus dan bersemangat, ingin menunjukkan kinerja dan kualitas dirinya,
atau hanya menginginkan sesuatu dari pimpinannya. Anak buah yang “baik”
tentu bukanlah orang yang selalu mengatakan “baik bu,” atau “baik pak,”
ketika pimpinan memberikan perintah tanpa bisa memberikan pandangan
kritis terhadap apa yang diperintahkan dan dampaknya terhadap kinerja
organisasi. Dahlan Iskan sendiri mengatakan bahwa anak buah yang baik,
adalah anak buah yang loyal kepada atasannya tetapi juga KRITIS, anak
buah yang patuh tapi juga bisa berpikir mana yang baik dan mana yang
tidak baik. Karena dengan menjadi anak buah yang kritis, sesungguhnya
anak buah itu bisa menyelamatkan atasannya dari situasi kritis yang
mungkin akan dihadapi. Tetapi jika ke-kritis-annya hanya bertujuan untuk
mementingkan kepentingannya sendiri, maka kita bisa langsung memberikan
label “tidak baik” baginya.
Karena itulah teori dahlan iskan ini
tidak bisa serta merta diaplikasikan dan diterjemahkan secara harfiah
saja. Kualitas kita sebagai pemimpin akan sangat menentukan sehingga
kita benar-benar bisa memilah dan memilih mana yang baik dan mana yang
tidak baik. Ditambah lagi jika benar menurut teori Dahlan Iskan bahwa
yang baik dan yang buruk berebut pengaruh, maka kualitas dari top manager –lah yang bisa membawa suatu organisasi kepada arah dan tujuan yang dikehendaki atau justru ke arah sebaliknya.
Subscribe to:
Posts (Atom)










